Ahlan Ramadhan

Ya Allah sesungguhnya engkau telah menaungi kami dengan bulan ramadhan, ramadhan akan tiba maka hantarkanlah ia kepada kami dan sampaikanlah kami kepadanya, berikanlah rezeki kepada kami dengan berpuasa dan shalat, anugerahkanlah kepada kami kekuatan dan kesungguhan serta kesiapan, lindungilah kami dari fitnah.’

Pada saat kita melihat bagaimana salafushalih menghidupkan bulan ramadhan dengan beribadah kepadaNya, maka kita akan mendapati hampir seluruh waktu yang ada hampir tak mereka lepaskan begitu saja, tetapi mereka berpacu dengan waktu tersebut seakan-akan mereka tidak pernah beristirahat. Imam Syafi’I terbiasa mengkhatamkan Al Qur’an 60 kali pada bulan ramadhan, Imam Ahmad mengkhatamkannya tiap pecan, Yahya bin Ma’in mengkhatamkannya tiap malam ranpa mengabaikan ibadah-ibadah yang lain. Kesungguhan ini tentu bukan kesungguhan yang biasa. Agar kita tidak hanya terkesima dengan ibadah mereka, mari kita coba awali dengan melihat sebab-sebab yang menjadikan mereka bias mewujudkan hal tersebut, diantaranya:

Mereka senantiasa membangkitkan kerinduannya kepada Allah Subhanahuwata’ala.

Hal ini sebagaimana doa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam shalat-shalatnya. Kerinduan akan perjumpaan dengan Rabbnya senantiasa mereka panjatkan dalam doa-doa mereka.

‘Aku memohon kepadaMu ridha atas ketetapanMu, kehidupan yang damai setelah kematian, kelezatan memandang wajahMu dan rindu akan perjumpaan denganMu.’ [HR. Nasai dishahihkan oleh alBani dalam Shahih al Jami’ no.1301]

Untuk menumbuhkan kerinduan itumereka mengawalinya dengan:

1. Menelaah lagi Asma wa sifat Allah.
2. Memperhatikan kenikmatan yang telah Allah anugerahkan.
3. Merasa rugi atas waktu-waktu yang telah berlalu karena melalaikan ibadah tidak seperti di bulan ramadhan.
4. Melihat kepada orang-orang shalih yang telah jauh meninggalkan mereka dengan amal ibadahnya.

Mereka sangat memahami keutamaan bulan ramadhan sebagai nikmat Allah kepada mereka.

Ibnu Mas’ud pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: ‘Seandainya hamba-hamba (Allah) mengetahui apa yang ada pada bulan ramadhan, sungguh umatku menginginkan agar satu tahun dijadikan ramadhan semuanya.’ [Umdatul Qari’ syarah shahih Al bukhari]

Melatih diri dengan persiapan, tekad yang kuat dan obsesi yang tinggi.

‘Dan jika mereka mau berangkat tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu.’ (QS. At Taubah[9]: 46)

Wahib bin Al Ward berkata: ‘ Jika anda mempu agar tidak seorangpun mendahuluimu kepada Allah (dalam beribadah) maka lakukanlah.’

Syaikh Syamsudin bin Muhammad al Turkistani berkata: ’ Tidaklah apa yang sampai kepadaku kabar tentang seseorang yang beribadah suatu ibadah kecuali saya melakukan ibadah itu yang sama dan menambahnya.’

Al Junaid berkata: “Berjalanlah engkau bersama orang-orang yang berhimmah ‘aliyah.”

Menjauhkan kemalasan dan bergaul dengan orang-orang yang rajin beramal shalih.

Syu’bah bin Al Hijaaj al Bishri berkata: “Janganlah kalian duduk untuk bersantai-santai karena kematian sedang mencarimu.”

Dikatakan kepada Imam Ahmad: “Kapan seseorang itu beristirahat?” Maka dijawab:”Ketika pertama kali telapak kakinya diletakan di surga.”

Senantiasa muhasabah atas segala kekurangan dalam beribadah.

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwasannya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: ”Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan dia duduk dikaki gunung ketakutan jika gunung itu meruntuhinya, adapun orang fajir melihat dosa-dosanya bagaikan dia melihat lalat yang melintas didepan hidungnya sambil berkata: Hi!!.” [HR. Muslim no.2744]

Membekali dengan ilmu seputar hukum-hukum ibadah ramadhan.

Pengetahuan yang benar tentang hukum-hukum seputar ramadhan merupakan modal utama didalam menjalankan ibadah ramadhan, sehingga pelaksanaan itu akan dijalani dengan kemantapan dan keyakinan serta mendapatkan pahala yang benar-benar memberikan manfaat di akhirat, tidak seperti orang-orang yang hanya bermodal semangat tanpa ilmu sehingga amalnya bak debu yang tidak berguna.

“Dan kami hadapkan segala amal yang merka kerjakan lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al Furqan[25]:53)

Mempersiapkan diri dengan kesabaran agar bisa menikmati ibadah pada bulan ramadhan.

Dibulan yang penuh berkah inilah seorang muslim diuji kesabarannya dalam berbagai hal, sebagaimana Allah berfirman didalam hadits Qudsi: “Mereka meninggalkan syahwatnya dan makanannya serta minumnya hanya untukKu, maka puasa itu untukKu dan Akulah yang akan membalasnya.” [HR. Muslim no.1151]

“Sifat-sirat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat[41]:35)

Menghidupkan segala ibadah-ibadah yang ada dan mampu dikerjakan tanpa meremehkan ibadah yang terlihat kecil.

Abu Dzar berkata bahwasannya RasulullahShalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Janganlah kamu memandang rendah sedikitpun suatu kebajikan.” [HR. Muslim no.2626]

Ibnu ‘Abbas berkata: “Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam orang yang paling dermawan terlebih lagi pada bulan ramadhan ketika Jibril mendatanginya untuk mangajarkan Al Qur’an.” [HR. Al Bukhari no.1902]

Imam Syafi’I berkata: “Yang terbaik bagi seseorang pada bulan ramadhan adalah semakin dermawan sebagai bentuk meneladani Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan karena pada bulan ramadhan manusia lebih membutuhkan untuk kemaslahatan merekan serta kesibukan mereka pada puasa dan shalat daripada bekerja. Memperbanyak dzikir kepada Allah.”

Imam Ahmad berkata: “ Sebaik-baik amal adalah engkau berpisah dari dunia dan lisanmu basaah dari dzikir kepada Allah Subhanahuwata’ala.” [HR Ahmad di hasankan oleh AlBani dlm Shahih al Jami’ mno.165]

Memahami hal-hal yang bisa melemahkan ibadah, sehingga tidak larut dalam futur.

Umar bin Al Khatab berkata: “Sesungguhnya hati maju mundur (dalam beribadah) maka jika hati sedang bersemangat maka ambilah sekalian ibadah-ibadah nafilah, jika hati sedang mundur (dalam beribadah) maka wajibkanlah ibadah-ibadah yang wajib.” [Syarh as Sunnah karya al Baidhawi]

Selain hati yang menjadikan ibadah pada bulan ramadhan menjadi tidak optimal walaupun syaithan sudah dibelenggu, yaitu nafsu,“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS Yusuf[12]: 53)

Dalam syair-syair dikatakan: “Nafsu itu seperti bayi, jika dibiarkan menyusu makaakan selalu menyusu tapi jika disapih maka jadi tersapih. Biasanya bayi akan senantiasa menangis pada saat awal disapih akan tetapi jika sudah beberapa hari maka akan terbiasa, itulah jiwa manusia.”

Allahu a’lam bish shawab.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver