Tugas Pancasila "Konversi Minyak Tanah dan Gas"

A. Pendahuluan
Minyak Tanah adalah kebutuhan manusia sejak dulu. Dipakai mulai dari keperluan minyak lampu sampai kompor untuk memasak. Dialah minyak tanah yang merajai keperluan manusia. Tapi sekarang keperluan akan minyak tanah mulai dirasakan surut karena adanya listrik untuk keperluan lampu.
Dahulu sebelum adanya listrik maka minyak tanah adalah kebutuhan manusia untuk menerangi saat malam tiba. Mulai dari obor, colok, lampu Togok, lampu Dinding, lampu Lentera, sampai kepada lampu Petromag yang dipakai di masjid-masjid, toko-toko, dan rumah makan.
Semua lampu itu membutuhkan minyak tanah sebagai bahan bakarnya tanpa itu lampu tidak bisa hidup. Itulah sebabnya di daerah tempat saya tinggal istilah minyak lampu untuk minyak tanah lebih populer dari pada kata minyak tanah itu sendiri. Begitu pula untuk masak, mulai dari pakai kayu bakar untuk memancing api agar cepat menyala, sampai pada kompor minyak tanah banyak sumbu, dan yang satu sumbu, sampai pada kompor gas minyak tanah yaitu kompor yang biasa memakai minyak tanah dan tekanan angin sebagai memperkuat semburan apinya. Kompor seperti ini biasa dipakai oleh tukang tempel ban, tukang jual goreng pisang dalam gerobaknya dan lain-lainnya.
Tetapi sekarang minyak mulai dirasakan surut oleh orang-orang yang sudah biasa menggunakan listrik dalam keperluan penerangan lampu. Biasa menggunakan Gas LPG untuk memasak. Sehingga praktis minyak tanah ditinggalkan. Bagi orang yang sudah ada listrik dirumahnya praktis minyak tanah hanya untuk keperluan memasak saja.
Selain itu masyarakat memerlukan energi yang mudah dipakai, bersih, dan efisien. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2002 diperkirakan 1,5 juta orang meninggal akibat polusi dalam ruangan yang disebabkan pemakaian bahan bakar tradisional seperti kayu bakar. Di Indonesia, sekitar 74 persen penduduk masih menggunakan bahan bakar tradisional untuk keperluan memasak (www.iea.com).
Untungnya, sejak tahun lalu pemerintah sudah memulai program konversi ke gas elpiji yang diketahui jauh lebih bersih dan efisien. Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan program ini bahkan akan dipercepat implementasinya dari 6 tahun menjadi 4 tahun saja. Sehingga tahun 2011 nanti seluruh rumah tangga sudah melakukan penggantian bahan bakar (fuel switching) terutama dari minyak tanah ke gas elpiji. (www.kompas.com)
Akan tetapi kebijakan transisi energi ini tidak didasari oleh kesadaran bahwa seluruh masyarakat memang memerlukan energi yang sehat. Konversi minyak tanah ke gas elpiji yang kini menuai berbagai penolakan itu, lahir karena pemerintah ingin secepat kilat mencabut subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang masih tersisa. Dalam hal ini, pemerintah lebih peka terhadap kesulitannya sendiri, namun tidak terhadap kesusahan rakyat yang sesungguhnya baru siuman setelah dihajar kenaikan BBM
Masalah konversi minyak tanah ke gas mengungkap keretakan relasional antara pemerintah dan rakyat. Di satu sisi, empati pemerintah pada rakyat kian terkikis. Di sisi lain, kepercayaan rakyat kecil terkait kepedulian pemerintah merosot tajam.
Implementasi konversi minyak tanah menjadi gas LPG, mungkin bisa dianggap pemerintah sebagai strategi jitu dalam mengurangi subsidi BBM. Sayang, penerapannya tergesa-gesa, instan, dan sedikit memaksa. Tahapan alamiah bagi perubahan sikap dan perilaku dipersingkat demi akselerasi program.
Hasilnya, rakyat merasa tidak dimengerti dan diabaikan karena dicabut dari konteks kehidupan mereka. Kondisi ini mendorong reaksi penolakan. Memang, ada alasan-alasan rasional penolakan, seperti keiritan, buruknya kualitas kompor, atau takut meledak. Namun bila dicermati, itu adalah suara pedih mereka.
Protes atas protes akan terus terjadi bila masalah tidak diurai secara bottom-up. Akan sulit mengharap keberhasilan program konversi bila rakyat menganggap diri "kecil", sedangkan pemerintah dinilai opresif dan tidak peduli. Gejala-gejala ini memang tidak tampak, tetapi hadir sebagai salient belief (kepercayaan terselubung) yang mengarahkan sikap mereka.
Namun, nuansa itu tampaknya belum dimengerti. Pemerintah tetap saja menjalankan visinya. Padahal secara psikologis, perubahan sikap tidak semudah itu karena dibutuhkan persiapan dan sentuhan bertahap untuk persepsi, opini, kepercayaan, nilai, dan kebiasaan yang mendasari pilihan rakyat untuk tetap menggunakan minyak tanah.

B. Pembahasan
Pada awal 1980-an James Prochaska dan Carlo DiClemente memperkenalkan konsep SCM (Stages of Change Model) untuk memahami perubahan perilaku. Meski penerapannya bersifat individual, prosedurya dapat ditarik ke dalam konteks sosial. Kedua pakar ini melihat perubahan perilaku sebagai proses yang meliputi lima tahap, yaitu prakontemplasi, kontemplasi, persiapan, tindakan, dan pemeliharaan.
Pada tahap prakontemplasi, orang tidak merasa perlu berubah. Pada tahap kontemplasi, mulai ada keinginan melihat efek negatif dari kebiasaan atau perilaku yang dipertahankan. Meski demikian, tetap ada keraguan. Pada tahap persiapan, muncul keinginan untuk berubah. Bila ketiga tahap awal ini sudah dilalui, perubahan perilaku akan lebih mudah dicapai. Tahap-tahap itu kembali menegaskan tidak relevannya pendekatan instan dan pragmatis. Perubahan yang bertahan lama adalah efek dari meningkatnya kesadaran (consciousness rising), bukan desakan eksternal. Kesadaran inilah yang lebih dulu diupayakan lewat sosialisasi empatetik bertahap.
Konversi ke gas elpiji berada di jalur yang tepat. Cadangan gas Indonesia relatif lebih besar ketimbang minyak bumi, meski sebagiannya juga sudah dikonsesikan kepada asing. Namun, yang tidak tepat adalah menjadikan konversi bahan bakar dalam durasi amat pendek serta membiarkan orang miskin tanpa subsidi.
Pengalaman di banyak negara, transisi ke energi yang lebih modern sekurangnya memerlukan waktu hingga puluhan tahun. Misalnya, di Amerika Serikat memerlukan hampir 70 tahun (1850-1920) dan di Korea waktu yang dibutuhkan hanya 30 tahun (1950-80) akibat adanya kemajuan teknologi (Barnes, Flas, dan Floor, 1997). Penduduk Brazil yang menggunakan elpiji sebanyak 16 persen pada 1960 menjadi 78 persen pada 1985, dan hampir seluruhnya pada 2004 (UN Millenium Project, 2005).
Akibat tergesa-gesa, di lapangan konversi minyak tanah menjadi kacau sejak perencanaan hingga pelaksanaannya. Minyak tanah bersubsidi sudah ditarik dari wilayah terkonversi, padahal jaringan distribusi gas elpiji pengganti belum tersedia maksimal. Wajar jika resistensi terhadap program konversi kemudian mencuat di banyak tempat. Bukan kali ini saja rakyat kecil dikecewakan, tetapi hampir tiap program yang ditujukan bagi mereka seperti jaring pengaman sosial (JPS), bantuan langsung tunai (BLT), Askeskin, selalu berakhir kelabu.
Fenomena lain yang tampak dalam kebijakan konversi adalah implementasi yang memaksakan (coercive). Strategi ini akan merusak kepercayaan yang kian rapuh. Dalam persepsi rakyat kecil, minyak tanah adalah bahan bakar mereka dan gas dianggap bagian hidup orang berada.
Bila pemerintah tetap pada pendekatan koersif, rakyat kecil bisa menunjukkan perubahan sikap yang negatif (negative attitude change). Lebih jauh, dampak sosial-politisnya adalah kemerosotan drastis kepercayaan, yang pada gilirannya berdampak pada frustrasi lebih jauh yang potensial berbuah anarki.
Merombak skema kognitif masyarakat menuntut teknik persuasif yang lebih sesuai. Ada faktor sosio-kultural yang perlu dipertimbangkan agar gejolak sosial bisa diredam. Kegagalan melihat bahaya inilah yang menimbulkan demonstrasi berujung ricuh pada 6 Agustus 2007 di Depo Pertamina, Plumpang, Jakarta Utara. (www.pikiran-rakyat.com)
Seperti dikondisikan dalam skema kognitif kita, kericuhan selalu dilatarbelakangi provokasi. Konon, dengan mengamankan provokator, situasi bakal normal. Ini menunjukkan, pemecahan masalah masih terbatas faktor pencetus (precipitating factor), sementara faktor pendahulunya (predisposing factors) dibiarkan menjadi bibit-bibit anarki pada masa datang.
Anarki dan sikap bermusuhan bermula dari rasa tidak percaya, tidak adil, dan miskomunikasi. Pemerintah perlu mengintrospeksikan potensi destruktif ini karena hampir pasti akan memunculkan reaktans, yaitu reaksi negatif atau tidak menyenangkan terhadap aturan yang dicirikan dengan niat yang kian kuat untuk menentang.
Upaya ideal untuk menjaga kepercayaan adalah menciptakan sinkroni interaksional antara pemerintah dan rakyat kecil. Sinkroni interaksional adalah kepekaan menangkap ekspresi fisik dan emosional dari orang lain sebagai cerminan pemikiran dan perasaannya. Bila tercapai, muncul le rapport (Perancis, saling pemahaman lewat empati).
Untuk itu, ada dua pendekatan persuasif yang bisa digunakan. Pertama, orang akan lebih mudah dipersuasi bila pesan yang disampaikan tidak dimaksudkan untuk memanipulasi mereka. Karena itu, dibutuhkan penjelasan dan niat serius pemerintah untuk menjalankan program dan janjinya. Jika tidak ada perubahan perilaku, akan gagal di tengah jalan.
Kedua, saat rakyat memiliki keyakinan yang bertentangan dengan yang diinginkan pemerintah, pemerintah sebaiknya mampu menyosialisasikan rencananya dengan memberi penjelasan dari dua sisi, baik kompor gas maupun minyak tanah. Dengan begitu, rakyat tetap diberi peluang membuat pilihan rasional.

C. Kesimpulan
Dalam proses konversi ini, kepercayaan menjadi sentral. Seseorang pernah mengingatkan agar berhati-hati dengan teman saya. Ia menceritakan bagaimana berkali-kali dibohongi. Suatu saat, saya mengatakan, teman saya tampaknya sudah berubah. Ia tidak percaya. Menurut dia, perubahan itu hanya manipulasi.
Gejolak psikologis serupa tampaknya mendasari kecurigaan, resistensi, protes, dan perlawanan terhadap kebijakan pemerintah untuk mengonversi minyak tanah menjadi gas. Semuanya tumbuh sebagai bibit-bibit ketidakpercayaan dalam ketidaksadaran. Inilah yang harus diluluhkan lebih dulu demi perbaikan yang berpihak kepada rakyat.
Pemerintah jangan lagi mendesain kebijakan berdasarkan fantasinya sendiri. Menata kebijakan energi akan sukses jika ia menimbang kompleksitas persoalan yang dihadapi kaum miskin. Jangan sampai sinyalemen peraih Hadiah Nobel ekonomi Joseph Stiglitz terus bergema di sini. Lebih beruntung menjadi sapi di Eropa (karena disubsidi), ketimbang menjadi orang miskin di negara berkembang.

D. Daftar Pustaka.
1. UUD 1945
2. Http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/12/12/brk,20071212-113432,id.html
3. Http://pinguinndut.multiply.com/journal/item/52/Konversi_minyak_tanah_ke_gas
4. Http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/082007/23/0606.htm
5. Http://www.kompas.com/kompas-cetak/0310/31/daerah/660475.htm
6. Http://http://www.iea.org/
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tugas Media Pembelajaran

Komunikasi

Pengantar komunikasi

X Sebagai usaha penyampain/pemindahan informasi, ide, kepada orang lain secara verbal.

X Sebagai proses seseorang secara individual/ kelompok mempengaruhi orang lain.

X Sebagai proses dimana seseorang menyampaikan perangsang-perangsang untuk merubah tingkah laku orang lain.

X Sebagai sarana menyampaikan pesan supaya memperoleh tanggapan yang tepat

Hovland

Komunikasi adalah proses dimana seseorang (komunikator) menyampaikan perangsang dalam bentuk kata-kata untuk merubah tingkah laku orang lain.

Charles Cooley

Komunikasi adalah mekanisme yang menimbulkan adanya dan berkembanganya hubungan manusia, semua lembaga, pikiran bersama sarana untuk menyiarkannya dalam ruang dan merekamnya dalam waktu yang sama

Claude Shannow dan Warren Weaver

Komunikasi meliputi semua prosedur dimana sebuah pemikiran mempengaruhi pembicaraan yang lain.

Mencakup : kata-kata baik berupa tulisan dan lisan , musik, lukisan, sandiwara, ballet, dan semua tingkah laku manusia

Komunikasi

Komunikasi adalah proses penyampaian lambang yang mengandung pengertian yang sama oleh seseorang kepada orang laen, baik dengan maksud agar mengerti, maupun agar berubah tingkah lakunya

Cara-Cara Pokok Komunikasi

1. Bicara – mendengar

2. Menggambar – mengamati

3. Menulis – membaca

Komponen / Unsur Pokok Komunikasi

1. Sender

Yaitu orang yang menghasilkan pemikiran atau ide atau sebagai sumber ide (sources)

2. Message

Yaitu pesan yang berwujud ide, pengalaman, harapan, yang disampaikan.

3. Channel

Channel adalah sesuatau yang menjadi perantara dlam menyampaikan pesan

4. Receiver

Receiver adalah orang yang menerima ide dan menafsirkannya.

5. Feed back / effect

Adalah umpan balik yang berupa reaksi / respon sebagai akibat efek sampai tidaknya pesan (mesegge) dari si penerima ide.

Model-Model Komunikasi

I. Sender ® Message ® Receiver

II. Source ® Channel ® Receiver

III.




IV. Komunikator ® berita ® saluran ® Komunikasi (receptor)

V. Sources ® Message ® Channel ® Receiver

Mengenal Komponen Proses Komunikasi

Ø Sumber (source)

Ø Komunikator (encoder)

Ø Pernyataan pesan (message)

Ø Komunikasi (decoder)

Ø Tujuan (destination)


Kesimpulan S ® E ® M ® D ® DE


Bentuk-Bentuk Komunikasi

1. Berdasarkan jumlah receiver

a) Komunikasi personal (personal comm)

b) Komunikasi kelompok (group comm)

c) Komunikasi massa (mass comm)

2. Berdasarkan caranya

a) Komunikasi langsung (face to face)

b) Komunikasi tidak langsung

3. Berdasarkan arah komunikasi

a) Komunikasi satu arah

b) Komunikasi dua arah

Hambatan-Hambatan

1. Komunikator kurang mampu menyampaikan / mengoperkan perangasang

2. Adanya perbedaan interprestasi dan komunikasi

3. Adanya perbedaan ruang dan waktu antara komunikasi dengan komunikan

4. Jumlah komunikasi sangat banyak, sehingga sukar dijangkau oleh komunikator

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kulit Juga Bisa Tetap Tampil Halus Saat Hamil

Hamil adalah sebuah karunia tak terhingga bagi perempuan yang mendambakannya. Berbagai macam perubahan terjadi selama masa kehamilan ini, mulai dari perubahan mood akibat perubahan hormonal yang juga berpengaruh pada kondisi kulit.
Kulit merupakan lapisan paling luar tubuh yang bertugas melindungi organ tubuh bagian dalam, dan secara langsung terekspos oleh lingkungan. Tahukah Anda, kulit menempati porsi 15% dari berat badan? Untuk wanita berat kulit sekitar 3 kg sedangkan pria kurang lebih 5 kg.
Kulit memiliki fungsi yang penting, antara lain sebagai perlindungan, pembuangan sisa metabolisme, perasa dan peraba, pengaturan suhu tubuh, penyerapan, pembuatan pigmen, pembuatan vitamin D serta fungsi keindahan. Sehingga jika kulit mengalami kerusakan maka fungsinya tidak bekerja optimal.
Jika dilihat dari anatominya, kulit terdiri dari tiga lapisan, yaitu epidermis, dermis dan subkutis. Masing-masing lapisan mengemban tugas berbeda dan sama vitalnya.
Kulit kita sungguh mengagumkan. Bayangkan, beban yang harus dipikul kulit kita saat hamil yang meregang hebat namun berhasil kembali ke kondisi semula begitu kehamilan usai. Luar biasa bukan? Kemampuan kulit untuk mengembang inilah yang lazim disebut elastisitas kulit. Pada kehamilan, elastisitas kulit 'dipaksa' mengembang sampai level maksimum. Akibatnya sering menyebabkan 'pecahnya' permukaan kulit sehingga muncul stretch mark.
Selama hamil, akan terjadi berbagai perubahan pada kulit, seperti stretch mark, selulit, linea nigra hingga gatal-gatal. Kita akan coba mengupasnya satu demi satu
1Stretch Mark
Mungkin Anda sering mendengar istilah ini, namun agak bingung mengartikannya. Stretch Mark merupakan tanda parut berupa gurat-gurat putih yang muncul pada permukaan kulit, berbentuk garis berliku seperti anak sungai.
"Stretch mark ini biasanya muncul pada dinding perut, lengan atas, pinggul, paha, bokong dan payudara," ujar dr. Nooryda Hardjono, SpKK dari RS Bunda Jakarta dalam diskusi bersama media bertema 'Amazing Motherhood, Amazing Skin' yang digagas Vaseline, Agustus lalu. Talkshow seru kerjasama Vaseline, RS Bunda Jakarta dan PERDOSKI ini menghadirkan Sophie Navita, presenter dan ibu dua anak, Feny Rose, moderator dan Ika Paramita, Brand Manager Vaseline.
Vaseline punya alasan sendiri kenapa menggagas tema menarik ini. Setiap wanita perlu tampil dengan kulit cantik, bahkan saat hamil kan? "Setiap perempuan berhak untuk tamoil dengan kulit sehat dan cantik, terutama di saat penting dalam hidup, seperti saat hamil. Kita tahu, saat hamil terjadi sejumlah perubahan pada kulit. Makanya kami ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman soal ini," ujar Ika Paramita seraya menambahkan Vaseline ingin para ibu tetap merasa cantik dan bangga menjadi ibu tanpa perlu terbebani dengan masalah kulit semasa kehamilannya.
Guratan pada kulit ini biasanya muncul pada usia kehamilan empat atau lima bulan, dimana warnanya berwarna kemerah-merahan dan masih dapat disembuhkan. Namun begitu kehamilan memasuki usia tua, guratan yang timbul berwarna keputihan dan tidak dapat disembuhkan,"namun masih dapat disamarkan dengan perawatan intensif," tandas dr. Nooryda
Mengapa stretch mark muncul? Untuk menjawabnya perlu diketahui bahwa stretch mark terjadi pada lapisan dermis kulit, dimana terdapat kolagen dan jaringan atau serat penyambung. "Stretch mark muncul karena pengaruh hormon kehamilan dan akibat melarnya kulit mengakomodasi pertumbuhan janin. Atau dengan kata lain stretch mark terbentuk ketika terjadi peregangan kulit secara cepat yang merusak jaringan yang terdapat di dalamnya sehingga kulit mengalami peregangan berlebihan alias over stretched," ujar dr. Nooryda.
Faktor penyebab munculnya stretch mark antara lain kehamilan, perubahan berat badan secara mendadak (waspada untuk Anda yang kerap mengalami fenomena diet yoyo, dimana berat badan turun-naik dengan cepat), dan pengaruh obat (steroid, misalnya pada obat gemuk atau asma).
Nah, terkait kehamilan, stretch mark yang muncul saat wanita berbadan dua biasanya berwarna merah jambu dan cenderung lebar, kemudian berangsur berubah menjadi garis tipis berwarna keputihan atau kecoklatan. Bagi yang pernah hamil mungkin Anda akan mengenali stretch mark umumnya melintang di sepanjang dinding perut atau di atas pinggul. Jika peregangan payudara Anda semasa hamil dan menyusui juga besar, umumnya akan meninggalkan tanda parut putih sesudahnya, saat payudara kembali ke ukuran normal.
Apakah stretch mark lazim terjadi pada wanita hamil? Tidak selalu, sebab beberapa wanita beruntung memiliki faktor genetik yang 'menyelamatkannya' dari stretch mark. Coba runut lagi, jika ibu Anda punya kecenderungan stretch mark, maka kemungkinan besar Anda juga akan mewarisinya.
Presenter Sophie Navita beruntung tidak punya masalah stretch mark, atau menurut istilahnya 'cakar macan' karena bentuknya yang tidak beraturan. Makanya Sophie, ibu dua anak, mengaku agak bandel merawat kulit semasa hamil. Sophie hanya mengoleskan pelembab kalau ingat saja. "Kehamilan anak pertama saya selamat, tidak kena stretch mark meski malas merawat kulit. Semula saya pikir hal itu juga akan terjadi dengan kehamilan kedua. Namun nyatanya tidak demikian. Saat kehamilan kian membesar, mulai muncul guratan putih di sekitar pusar berbentuk mirip bunga matahari yang membuat saya cemas," papar istri Pongky Jikustik ini
Pengalaman serupa juga terjadi pada teman Ika. Ika mengisahkan si teman ini sejak awal kehamilan rajin mengoleskan losion yang mengandung kolagen di perutnya. Dengan pertambahan usia kehamilan, daerah perut yang diolesi losion hanya bagian atas, karena bagian bawah sulit dijangkau. Terbukti, pada daerah yang tidak 'tersentuh' losion muncul garis stretch mark, sedangkan bagian perut yang teratur menerima losion masih tetap mulus.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Memaknai Momentum Ramadan

Letterwealth

KITA bersyukur kepada Allah karena dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadan yang penuh berkah dan rahmah. Ini berarti kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk merengkuh kembali momentum Ramadan dan memaknainya dengan penuh apresiasi keimanan dan ketakwaan. Memang sudah seharusnya kita secara sadar dapat memaknai momentum Ramadan itu agar ibadah puasa dan ibadah-ibadah kita yang lain di bulan suci ini memiliki nilai tambah yang signifikan dalam perjalanan pengalaman kerohanian kita. Bagi kita, momentum Ramadan mempunyai seperangkat makna dan hikmah yang sangat mendalam.

Pertama, puasa Ramadan akan mengantarkan kita kepada pembentukan pribadi yang takwa. Ini sesuai dengan tujuan ibadah puasa itu sendiri, sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 183. Derajat takwa tidak secara otomatis kita peroleh dengan menyatakan iman kepada-Nya, akan tetapi kita upayakan dengan penuh pengabdian dan kebaktian kepada Allah. Yaitu, dengan cara beribadat secara benar, tulus dan ikhlas kepada-Nya. Pribadi yang takwa adalah pribadi yang mampu melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Kedua, Ramadan adalah bulan latihan rohaniah dan jasmaniah yang sangat intens. Secara rohaniah, puasa Ramadan bertujuan untuk mencapai derajat takwa. Tetapi, secara jasmaniah, diri kita juga dilatih dan ditempa selama sebulan. Kita tidak makan, minum dan berhubungan seks (dengan istri) sejak fajar terbit sampai matahari tenggelam. Jika perbuatan-perbuatan ini dilakukan, puasa kita batal. Selain itu, bisa tidak diperbolehkan ngrasani, menggunjing, marah, menyumpah sarapah atau mngeluarkan kata-kata kotor karena perbuatan-perbuatan demikian dapat mengurangi nilai puasa kita.

Ketiga, Ramadan ada-lah bulan yang penuh ampunan Allah. Sebenarnya, di luar Ramadan pun Allah akan memberikan ampunan kepada kita yang bertaubat secara benar dan sungguh-sungguh. Akan tetapi, bulan Ramadan memiliki momentum tersendiri. Momentum penting ini, antara lain, dinyatakan oleh Nabi bahwa orang yang berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan, keikhlasan dan kemantapan dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh Allah. Ramadan adalah bulan yang penuh curahan berkah, rahmah, dan maghfirah. Allah melimpahkan rahmat kepada hamba-Nya dan menerima taubat dari hamba-Nya.

Letterwealth


Keempat, Ramadan adalah bulan amal dan kesetiakawanan sosial. Puasa Ramadan mendorong kita untuk beramal kebajikan dan bersolidaritas sosial. Rasa lapar, haus, keprihatinan dan "penderitaan" yang secara langsung kita alami pada bulan Ramadan akan mengetuk hati kita masing-masing untuk beramal sosial dan bersolidaritas sosial. Kita realisasikan kesetiakawanan sosial ini dalam bentuk pemberian zakat, infak dan sedekah kepada kaum dhuafa yang memang sepantasnya kita tolong. Dalam harta kita (yang kaya, mampu dan berlebih) terdapat hak kaum dhuafa yang harus kita berikan kepada mereka. Dengan begitu, kaum dhuafa itu terbantu kebutuhan hidup mereka selama bulan Ramadan. Pada gilirannya, mereka dapat juga merayakan Idul Fitri dengan perasaan senang dan bahagia.

di dapat di :
romeoku Kedip-kedipin

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

JADWAL RAMADAHAN 1428 H

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Pendidikan Profetik

ini tugas ospek aku...........

Orientasi studi dan Pengenalan kampus alias Ospek adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan mengenalkan mahasiswa baru dengan kampus beserta kegiatan dan lingkungannya. Lihat aja maknanya dari kata orientasi dan pengenalan. Ada pepatah, “tak kenal maka ta’aruf”, yang artinya jika tidak mengenal maka berkenalan agar bias saling memahami. Jadi, begitu pula yang harus dilakukan Maba agar lebih cinta pada kampusnya, seperti kampus UNY ini terlebih fakultas Ilmu Pendidikan.

Dalam acara Orientasi studi dan Pengenalan kampus alias Ospek tahun 2007 kali ini Maba diminta untuk membuat artikel tentang ‘Pendidikan Profetik’. Dari katanya dapat diartikan profetik = prophetic = kenabian , jelas sekali terkandung filosofi yang dalam dengan pendidikan kenabian ini. Jadi, aspek intelektualitas saja tidak cukup bagi para pelaku pendidikan, tetapi juga harus didukung dengan sisi religius kenabian yang sarat dengan akhlaq mulia dan budi pekerti yang luhur.

Selama ini kita memang mendambakan pendidikan yang lebih profetik. Fenomena dunia pendidikan nasional belakangan ini adakalanya menggembirakan sekaligus mencemaskan. Menggembirakan, karena banyak upaya serta program pengembangan sekolah yang lebih terukur kualitas dan kemajuannya, maka lahirlah sekolah-sekolah unggulan. Mencemaskan, sebab dunia pendidikan sebagai gerbang pencerahan anak-anak bangsa, kini dihantui oleh banyak konflik horisontal di masyarakat, tawuran antarpelajar, narkoba di kalangan remaja. Pendidikan profetik, barangkali dapat menjadi harapan di masa depan. Sebuah proses pembelajaran yang meneguhkan arti pentingnya pencerahan mental spiritual semua stakeholder pendidikan, sehingga martabat dan hati nurani manusia benar-benar dihargai maknanya.

Pendidikan Profentik sebenarnya telah banyak dijadikan ide oleh para tokoh pendidikan untuk menjadikan sistem pendidikan dinegeri kita ini menjadi makin bagus seperti pemikiran dari Kuntowijoyo, beliau adalah ilmuwan sosial Muslim yang pertama kali mengetengahkan perlunya "ilmu sosial profetik" (ISP). Dalam pemikiran beliau pendidikan profentik dibagi menjadi dua hal pokok.

Pertama, transformasi sosial dan perubahan. Sebagaimana dikemukakan oleh M Dawam Raharjo dalam kata pengantarnya untuk buku Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, ISP yang ditawarkan Kuntowijoyo merupakan alternatif terhadap kondisi status quo teori-teori sosial positivis yang kuat pengaruhnya di kalangan intelektual dan akademisi di Indonesia. ISP tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial. Tetapi juga memberikan interpretasi, mengarahkan, serta membawa perubahan bagi pencapaian nilai-nilai yang dianut oleh kaum Muslim sesuai petunjuk Al Quran, yakni emansipasi atau humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Kedua, menjadikan Al Quran sebagai paradigma. Yang dimaksud paradigma oleh Kuntowijoyo dalam konteks ini adalah sebagaimana dipahami Thomas Kuhn, yakni bahwa realitas sosial dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu, yang pada gilirannya akan menghasilkan mode of knowing tertentu pula. Dengan mengikuti pengertian ini, paradigma Al Quran bagi Kunto adalah "konstruksi pengetahuan" yang memungkinkan kita memahami realitas sebagaimana dimaksud oleh Al Quran itu sendiri. Ini artinya, Al Quran mengonstruksi pengetahuan yang memberikan dasar bagi kita untuk bertindak. Konstruksi ini memungkinkan kita untuk mendesain sistem, termasuk di dalamnya sistem pengetahuan (M Syafii Anwar: 1997).

Didalam pendidikan profetik ada sisi memungkinkan bagi pemikiran tentang kenabian itu bisa digunakan dalam melihat realitas. Tentu saja, hal ini meniadakan prinsip ilmu sosial yang bebas nilai. Ilmu sosial dengan paradigma profetis harus melakukan pembebasan seperti apa yang pernah dilakukan oleh para Nabi. Jika kita perhatikan, sejarah Nabi-nabi itu memiliki kadar kedalamaan ilmiah yang tinggi, yaitu bagaimana cara kerja pikir dan sikap mereka dalam memahami realitas. Para Nabi melakukan “pembebasan sosial” (liberating) di mana ketidakadilan dan penindasan begitu menghantui kehidupan masyarakat. Mereka tetap berangkat dari substansi ajaran agama (transedensi) yang itu harus “diaktivasi” dalam realitas kesejarahan manusia. Ada tiga unsur yang menjadi bagian dari kerangka kerja ilmiah dalam memahami realitas, yaitu liberasi, emansipasi, dan transendensi. Ketiga unsur itu harus digerakkan dalam aktivisme sejarah. Tapi, gagasan mengenai sosiologi profetik yang akan dikaji dalam tulisan ini baru beranjak dari upaya mengembangkan ilmu sosiologi yang multi-disiplin, tidak menafikan adanya kepentingan “nilai” (prophetic as a value), dan berkewajiban untuk melakukan pembebasan dan perubahan sosial. Gagasan sosiologi profetik tidak cukup hanya dengan kontribusi tulisan ini saja, perlu perluasan wacana di masa mendatang.

Jadi dapat disimpulkan dalam pendidikan profetik ini sistem pendidikan tidak hanya untuk mengejar tingginya intelektual saja tetapi sisi religius juga menjadi aspek penting sehingga masa depan agama dan bangsa Indonesia yang kini sedang tertatih sekarang ini bisa cepat keluar dari krisis. Tidak hanya krisis ekonomi, tetapi juga krisis pengetahuan yang rasional obyektif. Terlebih bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang mana UNY terkenal telah mencetak banyak tenaga pendidik sehingga diharapkan dengan pendidikan profetik ini selain dapat memajukan IPTEK juga mampu meningkatkan IMTAQ dari pendidik maupun dari peserta didik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Beberapa pengertian kurikulum

1. www.ppk.kpm.my/definasi.htm

“… suatu program pendidikan yang termasuk kurikulum dan kegiatan kokurikulum yang merangkumi semua pengetahuan, kemahiran, norma, nilai, unsure kebudayaan dan kepercayaan untuk membantu perkembangan seseorang murid dengan sepenuhnya dari segi jasmani, rohani, mental dan emosi serta untuk menanam dan mempertingkatkan nilai moral yang diingini dan untuk menyampaikan pengetahuan”

Akta Pendidikan 1996
[Peraturan-peraturan (Kurikulum Kebangsaan) Pendidikan 1997]

2. www.ktsp.diknas.go.id/download/ktsp_smk/01.ppt

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Depertemen pendidikan nasional

(UNDANG–UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL)

  1. www.kopertis4.or.id

Kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di

perguruan tinggi.

(Pasal 1 Butir 6 Kepmendiknas No.232/U/2000 tentang Pedoman PenyusunanKurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa)

  1. www.ciast.gov.my/backup/malay

Curriculum as, 'All the learning which is planned andguided by the school, whether it is carried on ingroups or individually, inside or outside the school.

ways of approaching curriculum theory and practice:

1. Curriculum as a body of knowledge to be transmitted.

2. Curriculum as an attempt to achieve certain ends in students - product.

3. Curriculum as process.

(quoted in Kelly 1983: 10; see also, Kelly 1999)

  1. www.mail-archive.com/ppi@freelists.org/msg29777.html

Kurikulum yakni bahwa konsep kurikulum dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis pengertian yang meliputi: (1) kurikulum sebagai produk; (2) kurikulum sebagai program; (3) kurikulum sebagai hasil yang diinginkan: dan (4) kurikulum sebagai pengalaman belajar bagi peserta didik.

(Beane dkk 1986)

  1. www.karyanet.com.my/knet/ebook

‘Kurikulum’ dalam bahasa Latin mempunyai kata akar ‘curere’. Kata ini bermaksud ‘laluan’ atau ‘jejak’. Secara yang lebih luas pula maksudnya ialah ‘jurusan’ seperti dalam rangkai kata jurusan peperangan’. Perkataan’kurikulum’ dalam bahasa Inggris mengandungi pengertian ‘jelmaan’ atau ‘metamorfosis’. Paduan makna kedua-dua bahasa ini menghasilkan makna bahawa perkataan kurikuluin’ ialah ‘laluan dan satu peringkat ke satu peningkat’. Perluasan makna ini memberikan pengertian ‘kurikulum’ dalam perbendaharaan kata pendidikan bahasa Inggeris sebagai jurusan pengajian yang diikuti di sekolah.

(Kliebard, 1982)

  1. www.kopertis4.or.id

Kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out7 comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran.Perencanaan tersebut disusun secara terstrukturuntuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai.

(Grayson 197)

  1. www.kopertis4.or.id

Kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.

(Harsono 2005)

  1. www.hotnickname.blogspot.com

Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran serta metode yang digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan kegiatan pembelajaran

(Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 725/Menkes/SK/V/2003

tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di bidang Kesehatan)

  1. www.bsn.or.id/SNI

Kurikulum adalah serangkaian mata ajar dan pengalaman belajar yang mempunyai tujuan tertentu, yang diajarkan dengan cara tertentu dan kemudian dilakukan evaluasi

(Badan Standardisasi Nasional SNI 19-7057-2004 tentang

Kurikulum pelatihan hiperkes dan keselamatankerja bagi dokter perusahaan)

  1. www.metos2004.250free.com/curriculum/kurikulum.htm

kurikulum dapat diartikan sebagai pengajian di sekolah dengan mengambil kira kandungan dari masa lampau hingga masa kini. Pembentukan kurikulum menekankan kepetingn dan keperluan masyarakat.

(John Dewey 1902;5

dalam bukunya ‘The Child and The Curriculum’)

  1. www.destalyana.blogspot.com

Kurikulum dapat diartikan keseluruhan pengalaman, yang tak terarah dan terarah, terumpu kepada perkembangan kebolehan individu atau satu siri latihan pengalaman langsung secara sedar digunakan oleh sekolah untuk melengkap dan menyempurnakan pendedahannya. Konsep beliau menekankan kepada pemupukan perkembangan individu melalui segala pengalaman termasuk pengalaman yang dirancangkan oleh sekolah.

(Frank Bobbit 1918,

dalam buku ‘The Curriculum’)

  1. www.depdiknas.go.id/jurnal

Kurikulum sebagai a plan for learning, yakni sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh siswa. Sementara itu, pandangan lain mengatakan bahwa kurikulum sebagai dokumen tertulis yang memuat rencana untuk peserta didik selama di sekolah

(Hilda Taba ;1962

dalam bukunya "Curriculum Development Theory and Practice)

  1. www.depdiknas.go.id/jurnal/35

Menurut Hasan Kurikulum bersifat fleksibilitas mengandung dua posisi. Pada posisi pertama berhubungan dengan fleksibilitas sebagai suatu pemikiran kependidikan bagi diklat. Dengan demikian, pada posisi teoritik yang harus dikembangkan dalam kurikulum sebagai rencana. Pengertian kedua yaitu sebagai kaidah pengembang kurikulum. Terdapatnya posisi pengembang ini karena adanya perubahan pada pemikiran kependidikan atau pelatihan.

S. H. Hasan (1992)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kurikulum

1 Kurikulum


Perkataan kurikulum berasal dari perkataan Latin yang merujuk kepada ‘laluan dalam sesuatu pertandingan. Berdasarkan kepada konsep tersebut , perkataan kurikulum adalah berkait rapat dengan perkataaan ‘laluan atau laluan-lauan’. Sehingga awal abad ke 20, kurikulum merujuk kepada kandungan dan bahan pembelajaran yang berkembang iaitu ‘apa itu persekolahan’. Ahli progresif dan behaviouris pada lewat abad ke 19 dan abad ke 20 membincangkan tentang kurikulum dengan memasukkan unsur-unsur seperti kepelbagaian, keperluan masyarakatan dan strategi-strategi pengajaran.



Frank Bobbit (1918), dalam buku ‘The Curriculum’ menghuraikan kurikulum sebagai :

i) keseluruhan pengalaman, yang tak terarah dan terarah, terumpu kepada perkembangan kebolehan individu atau

ii) satu siri latihan pengalaman langsung secara sedar digunakan oleh sekolah untuk melengkap dan menyempurnakan pendedahannya. Konsep beliau menekankan kepada pemupukan perkembangan individu melalui segala pengalaman termasuk pengalaman yang dirancangkan oleh sekolah.



John Dewey (1902,halaman 5) dalam bukunya ‘The Child and The Curriculum’ merujuk istilah kurikulum sebagai “pengajian di sekolah dengan mengambil kira kandungan dari masa lampau hingga masa kini’. Pembentukan kurikulum menekankan kepetingn dan keperluan masyarakat. Beliau selanjutnya menghuraikan konsep ini dalam bukunya ‘Democracy and Education’ (1916, halaman 125). Dewey menyatakan bahawa skema kurikulum harus mengambil kira penyesuaian pembelajaran dengan keperluan sesebuah komuniti; ia harus membuat pilihan dengan niat meningkatkan kehidupan yang dilalui supaya masa depan akan menjadi lebih baik dari masa lampau. Di sini, elemen rekonstruksionism social dapat dikesan dengan melihat kea rah mana keperluan masyarakat diletakkan sebagai objektif utama, tanpa menafikan kepentingan individu.



Diantara lain definisi kurikulum adalah seperti berikut :



-urutan pengalaman yang ditetapkan oleh sekolah untuk mendisiplinkan cara berfikir dan bertindak (Valiga, T & Magel, C., 2001)

-isi kandungan dan proses formal dan tidak formal yang mana pelajar memperolehi ilmu dan kefahaman, mengembangkan kemahiran dan mengubah sikap serta menghargai dan mempelajari nilai-nilai murni di sekolah (Doll, R.

1996)

-pengalaman pembelajaran yang dirancang dan dibimbing serta hasil pembelajaran yang diinginkan, yang dibentuk secara sistematik dengan pembinaan semula ilmu dan pengalaman di sekolah, bagi pertumbuhan dalm hal kecekapan sosial peribadi secara berterusan dan bersungguh-sungguh

-kurikulum sekolah adalah satu siri peristiwa yang terancang yang bertujuan untuk memberi kesan pendidikan kepada murid di sekolah

-kurikulum seharusnya mempunyai matlamat awalan untuk dicapai, isi kandungan, proses dan pengalaman yang dipilih untuk memudahkan pembelajaran; tahap tanggungjawab yang perlu di ambil oleh guru dan pelajar untuk pembelajaran; bagaimana dan dimana kurikulum dilaksanakan (Dillard & Laidig, 1998)

-Menurut Laporan Jawatan Kuasa Kabinet 1979, dalam konteks Malaysia , kurikulum boleh didefinisikan sebagai :



Semua perancangan pendidikan yang dilaksanakan oleh sekolah atau institusi pendidikan adalah untuk mencapai matlamat pendidikan. Kurikulum mengandungi dua aspek :



-sukatan dan kandungan mata pelajaran dengan aktiviti pengajaran dan pembelajaran

-kurikulum seperti sukan, persatuan dan unit beruniform



-Mengikut Akta Pendidikan 1996; Pendidikan (Peraturan Kurikulum Kebangsaan) 1997 mendefinisikan Kurikulum Kebangsaan sebagai :



’program pendidikanyang merangkumi aktiviti kurikulum dan kokurikulum yang mencakupi semua ilmu pengetahuan, kemahiran, norma, nilai, elemen budaya dan kepercayaan untuk membantu mengembangkan murid sepenuhnya dari aspek fizikal, rohani, mental dan emosi serta memupuk dan memperkembangkan nilai murni yang diingini serta untuk menyebarkan ilmu pengetahuan’



Umumnya, bagaimanakah anda mendefinisikan kurikulum? Carta berikut mungkin dapat membantu anda memperoleh pengertian konsep dan kurikulum.



Konsep Umum Kurikulum





Konsep kurikulum dapat dijelaskan dengan lebih baik lagi melalui cara bagaimana sekolah menjawab sembilan soalan kurikulum yang berikut ini :



1. Apakah yang harus diajar ?
2. Kepada siapa ia harus diajar ?
3. Mengapa ia harus diajar ?
4. Bagaimana ia harus diajar ?
5. Bila (berapa lama dan bagaimana susunannya?) harus ia diajar?
6. Bagaimana kita harus tahu bahawa pembelajaran telah berlaku?
7. Apakah sumber yang akan digunakan (buku teks, bahan, video dll)?
8. Dalam keadaan bagaimanakah kurikulum akan dilaksanakan? Apakah kumpulan (kooperatif, homogenous, individu) yang akan digunakan?
9. Apakah aspek situasi bilik darjah (susunan meja kerusi,ekologi bilik darjah) yang akan digambarkan dalam kurikulum?



2.0 Jenis-Jenis Kurikulum



Apakah jenis kurikulum yang anda tahu ? Sebenarnya terdapat dua jenis kurikulum utama iaitu kurikulum formal dan tersembunyi.



Kurikulum formal ialah rancangan di mana aktiviti pembelajaran dijalankan supaya matlamat atau objektif pendidikan dan sekolah tercapai. Ia merupakan satu set dokumen untuk dilaksanakan. Ia mengandungi hal sebenar yang berlaku dibilik darjah dan apa yang telah disediakan dan dinilai. Setiap sekolah ada kurikulum terancang iaitu satu set objektif yang berstruktur dengan kandungan dan pengalaman belajar serta hasil yang dijangkakan. Ia merupakan rancangan eksplisit dan operasional yang dihasratkan, lazimnya dikelolakan mengikut mata pelajaran dan gred, di mana peranan guru didefinisikan dengan jelas (Ornstein, A.C. & Hunkins, F, 1983)



Kurikulum tersembunyi adalah sesuatu yang tidak terancang dan tidak formal. Ia mungkin disebut sebagai kurikulum ”tak rasmi” atau ”terlindung” atau ”tak formal”. Kurikulum ini dikelolakan di luar konteks pengajaran rasmi. Ia merupakan perlakuan dan sikap yang dibawa kedalam bilik darjah dan sekolah tanpa disedari dan disebut kerana tidak dinyatakan secara eksplisit. Ia terdiri dari peraturan tidak bertulis, konvokesyen, adat resam dan nilai budaya. Ia dibentuk oleh faktor-faktor seperti status sosioekonomi dan latar belakang pengalaman guru dan murid.



Jadi apakah peranan anda sebagai guru dalam kurikulum tersembunyi? Anda harus berupaya untuk mengenalpasti aspek-aspek kurikulum tersembunyi, terutamanya kemungkinan ketidakfungsiaan potensi atau pengalaman pembelajaran negatif dan di mana-mana kemungkinanan untuk mengawal dan memperbaiki situasi.



Huraian ringkas yang berikut membolehkan anda membezakan antara pelbagai jenis kurikulum.



Kurikulum Bertulis/Yang Dihasratkan

- kurikulum yang dimuatkan dalam panduan kurikulum negeri dan daerah seperti Kurikulum Kebangsaan iaitu KBSR/KBSM/Kurikulum Pra-Sekolah

Kurikulum Cadangan

- kurikulum yang dicadangkan oleh pakar-pakar pendidik, pertubuhan profesional, suruhanjaya pembentuk dan pembuat dasar

Kurikulum Masa Depan

- merangkumi pendekatan berpusatkan murid yang membolehkan mereka memahami kekuatan dan kelamahan masing-masing serta berupaya belajar sepanjang hayat

- pengalaman belajar direka untuk membantu murid menyepadukan pengetahuan baru dan memurnikan bagi melahirkan celik akal melalui banding beza, membuat induksi, deduksi dan menganalisis

- pengalaman belajar memberikan murid peluang untuk menggunakan pengetahuan secara bermakna bagi membolehkan mereka membuat keputusan dan untuk membentuk pmikiran kritikal, kreatif dan futurisitik serta penyelesaian masalah seperti Kajian Masa Depan

- 3 pendekatan boleh digunakan untuk melaksanakan visi ini :

-kandungan akan dibekalkan melalui pelbagai cara penyampaian dengan menggunakan pelbagai strategi

-kurikulum akan dibina sebagai modul dan diakses melalui rangkaian jaringan

-bahan, pengalaman dan sokongan akan diperolehi daripada pelbagai sumber dan disepadukan ke dalam struktur teras kurikulum

Kurikulum Sokongan

- kurikulum yang digambarkan dan dibentuk oleh sumber yang disediakan untuk menyokong atau menyampaikan

Kurikulum Tersembunyi

- terletak diluar konteks pengajaran rasmi, belajar secara implisit

- mengandungi peraturan tak bertulis. Konvensi, adat resam, nilai budaya yang dikenali sebagai sekolah, sperti sopan santun, menjaga kebersihan dan jujur

- dibentuk oleh faktor seperti sosioekonomi dan latar belakang pengalaman dan murid

Kurikulum Yang Di Ajar

- kurikulum yang dapat di lihat ketika memerhati pengajaran guru

Kurikulum Yang Di Uji

- set pembelajaran yang dinilai dalam ujian yang digubal oleh guru , ujian dibina di peringka daerah dan ujian piawaian

Kurikulum Yang Di Alami/Di Pelajari

- semua perubahan pada nilai, persepsi dan tingkah laku yang berlaku adalah hasil daripada pengalaman persekolahan



Hubungan kurikulum boleh dijelaskan melalui rajah yang berkaitan dengan lapisan kurikulum







3.0 Model Kurikulum



Terdapat pelbagai model kurikulum yang dibincangkan oleh Raplh Tyler (1949), Hilda Taba (1966) , Stenhouse (1975) dan Stake (1976).





a) Model Perkembangan Tyler



Berdasarkan 4 persoalan asas

i) Apakah tujuan pendidikan yang perlu dicapai oleh sekolah?

ii) Apakah pengalaman pendidikan yang boleh diberikan yang mungkin dapat mencapai tujuan tersebut ?

iii) Bagaimanakah pengalaman pendidikan ini boleh disusun secara berkesan?

iv) Bagaimanakah dapat kita tentukan sama ada tujuan ini boleh dicapai atau sebaliknya?



Penekanan pada pembentukan objektif tingkah laku sebagai tujuan sebenar pendidikan bukanlah untuk guru melakukan sesuatu aktiviti tetapi untuk membawa perubahan signifikan dalam pola tingkah laku murid. Adalah penting untuk mengenal pasti bahawa sebarang pernyataan objektif sekolah adalah merupakan pernyataan perubahan yang berlaku dikalangan murid



Adalah sistematik dan memberi panduan yang kukuh untuk menentukan objektif tingkah laku dan menyediakan hasilan yang jelas supaya kandungan kurikulum dan kaedah penyampaian dapat disusun dan hasilannya boleh dinilai.





b) Model Perkembangan Taba



Kurikulum sebagai rancangan untuk bertindak

Pendekatan bawah keatas (bottoms-up) terhadap kurikulum di mana guru memainkan peranan utama

Peraturan tertentu untuk membina kurikulum dan guru harus membantu dalam proses perkembangannya

7 langkah dalam perkembangan kurikulum adalah :

i) mendiagnosis keperluan

ii) pembentukan objektif

iii) pemilihan kandungan

iv) pengurusan kandungan

v) pemilihan pengalaman pembelajaran

vi) pengelolaan aktiviti pembelajaran

vii) penilaian



c) Model Perkembangan Stenhouse



Kurikulum sebagai satu proses

Kurikulum bukan berbentuk fizikal tetapi berkaitan dengan interaksi guru, murid dan ilmu

Kurikulum adalah perkara sebenar yang berlaku dalam bilik darjah dan dilakukan oleh seseorang untuk membuat persediaan dan penilaian

Proses yang aktif dan dihubungkaitkan dengan set penaakulan praktikal Aristotle

Cubaan penyampaian prinsip-prinsip dan ciri-ciri pendidikan dalam satu bentuk terbuka untuk penilitian kritis dan boleh diterjemahkan kebentuk prakital

Perlu penyediaan asas untuk merancang sesuatu kursus , mengkaji secara emperikal dan mempertimbangkan alasan secara praktikal. Ia harus menawarkan :



a) Perancangan

- prinsip pemilihan kandungan – apa yang perlu diajar dan dipelajari

- prinsip perkembangan startegi pengajaran - bagaimana ia dipelajari dan diajar

- prinsip membuat keputusan tentang urutan

- panduan untuk guru bagi kesesuaian untuk melaksanakan kurikulum dalam pelbagai konteks

- maklumat tentang kepelbagaian kesan dalam konteks yang berbeza

Justifikasi : bermatlamatkan mudah diakses untuk diteliti dan dikritik

Melihat Kurikulum sebagai sesuatu bentuk spesifikasi tentang amalan pengajaran

Hasil kurikulum ini adalah hasil perkembangan kandungan dan cara daripada kerjasama antara guru dan murid



Pembelajaran adalah berpusatkan murid dengan fokusnya adalah interaksi ; proses pembelajaran merupakan fokus utama guru



4.0 Faktor Mempengaruhi Pembentukan dan Perubahan Kurikulum







2.0 Rumusan



Kurikulum adalah rancangan untuk pembelajaran. Semua rancangan mengandungi visi yang mentakrifkan nilai sosial dan struktur yang diterjemahkan ke dalam pengalaman. Perkembangan kurikulum ialah proses yang dinilainya diterjemah dan disusun ke dalam pengalaman pembelajaran.



Perkembangan kurikulum, sebagai satu proses , merupakan putaran asas yan mengandungi : menganalisis, mereka bentuk, melaksanakan dan menilai. Proses ini digunakan di semua peringkat dalam pembentukan konsep dan menyepadukan semua usaha untuk meningkatkan kualiti program persekolahan.



Kurikulum ialah segala pengalaman pembelajaran yang dirancang dan diarahkan oleh sebuah sekolah untuk mencapai matlamat pendidikan.



Dibawah kurikulum akademik, terdapat pelbagai jenis kurikulum, seperti kurikulum integrasi, teras dan aktiviti atau pengalaman yang dapat digabungkan untuk membentuk kurikulum formal.



Pembentukkan dan perubahan dalam kurikulum dipengaruhi oleh polisi-polisi kerajaan, matlamat dan keutamaan program, keperluan negara dan masyarakat, keperluan individu serta keperluan menyeluruh.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tipisnya Dinding Pembatas ‘Butuh’ dan ‘Ingin’

Letterwealth

Kebutuhan dan keinginan. Dua hal yang berbeda namun seringkali memiliki batas yang sangat tipis. Tidak percaya? Oke, begini, semisal minggu lalu Anda baru saja membeli sepasang sepatu high heels hitam karena high heels yang biasa Anda kenakan ke kantor sudah tidak layak pakai.

Lalu hari ini sepulang kantor, mata Anda tertumbuk pada sepasang high heels warna merah merk terkenal dan tentunya mahal, lalu tanpa sadar sepatu cantik tersebut sudah Anda bayar di kasir. Sayangnya, high heels merah ini menyabot budget Anda untuk belanja bulanan yang sudah Anda rencanakan sebelumnya.
High heels hitam adalah kebutuhan, high heels merah yang menurut Anda ‘butuh’ karena bisa dimatchingkan dengan baju merah, sebenarnya adalah keinginan. Membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana yang sebenarnya masuk sebagai keinginan, memang kadang sulit dan bisa membuat ‘terpeleset’. Akibatnya, apalagi kalau bukan pundi-pundi bocor.

Pundi-pundi yang bocor karena sifat boros, tentunya bisa berakibat besar pasak daripada tiang. Karena tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, maka dengan ringannya Anda bisa mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli sesuatu. Padahal mungkin uang itu akan lebih bermanfaat kalau digunakan untuk hal lain.

Tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan juga bisa membuat Anda tidak bisa menentukan dengan baik prioritas dalam melakukan pembelanjaan. Malah, bisa jadi Anda mengorbankan suatu kebutuhan untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan.

Apa bedanya?

Letterwealth

Sebenarnya tidak ada batasan yang pasti untuk menentukan perbedaan antara kebutuhan atau keinginan. Tapi bisa dikatakan, kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan oleh manusia sehingga dapat mencapai kesejahteraan. Dapat dikatakan bahwa kebutuhan adalah suatu hal yang harus ada, karena tanpa itu hidup kita menjadi tidak sejahtera atau setidaknya kurang sejahtera.

Sedangkan keinginan adalah sesuatu tambahan atas kebutuhan yang diharapkan dapat dipenuhi sehingga manusia tersebut merasa lebih puas. Namun bila keinginan tidak terpenuhi maka sesungguhnya kesejahteraannya tidak berkurang.

Kalau kita sudah bisa membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan maka kita bisa menentukan prioritas, mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa ditunda. Bukan berarti juga keingingan selalu dipatahkan, memenuhi keinginan sah-sah saja selama tidak mengorbankan kebutuhan kita yang lain yang lebih penting.

Satu hal penting yang juga tidak boleh luput adalah kebutuhan tidak selalu pasti datang sekarang, kebutuhan untuk dipenuhi di masa depan masih menjadi satu rentetan panjang. Sedangkan keinginan tidak akan pernah ada batasnya, sekarang atau akan datang.

>Di dapat
Di sini Kedip-kedipin

Letterwealth

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver